Wisata Kuburan dan Berburu Awan di To’tombi Lolai Toraja

Pariwisata Indonesia saat ini sedang hangat, atau sering dikatakan “kekinian” untuk anak jaman sekarang yang mendadak hobby jalan jalan atau sekedar foto untuk keperluan sosial media. Hal ini memberikan dampak positif untuk negara dan daerah lokasi wisata serta penduduk setempat. Tujuan perjalanan kali ini adalah Toraja, yang sebenarnya lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan asing daripada wisatawan lokal. Toraja yang berada di Sulawesi Selatan ini, masih sangat kental dengan adat istiadat dan budayanya. Hal inilah yang menarik untuk dikunjungi.


Toraja bisa di tempuh melalui jalur darat selama delapan jam dari pusat kota Makassar. Perjalanan yang cukup singkat, mengingat indahnya pemandangan serta banyaknya tempat persinggahan yang sangat unik untuk dilewatkan. Salah satunya warung kopi yang menyediakan berbagai macam ole ole khas Sulawesi Selatan, disini pelanggan bisa menikmati hidangan sambil sedikit melepaskan lelah. Setelah enam perjalanan, kami melewati hamparan pegunungan yang luar biasa indah dan masih berselimut kabut di pagi hari. Gunung Nona yang terletak di poros jalan di kabupaten Enrekang ini, memiliki bentuk yang unik yang menyerupai alat reproduksi wanita, yang konon katanya ada legenda terbentuknya gunung ini. Disini pengunjung bisa menikmati sajian khas Enrekang dengan dimanjakan pemandangan cantik, udara dingin dan segar, di cafe atau restoran yang berjejer sepanjang jalan.

Gunung Nona, di kabupaten Enrekang
Nona di gunung Nona, kabupaten Enrekang

Kemudian kami melanjutkan dua jam perjalanan ke Misiliana Hotel yang terletak di pusat kota Toraja yaitu Rantepao. Untuk lebih merasakan adat istiadat dan budaya Toraja kami sengaja memesan Tongkonan Suite, rumah Tongkonan yang sudah di modifikasi untuk bisa di tinggali. Bagian depan rumah adat Tongkonan ini biasanya hanya digunakan untuk lumbung padi dan ruangan bagian dalam hanya digunakan untuk duduk bersama para keluarga.

Rantepao, Toraja Utara
Tongkonan Suite, Tongkonan Sa’dan

Menjelang matahari terbenam kami mengarah ke Lo’ko Mata dan melewati Batutumonga, yang sepanjang perjalanan dihiasi bentangan teras teras sawah dan sekitarnya banyak terdapat kuburan batu. Satu kuburan batu merupakan pemakaman serumpun atau satu marga. Kuburan batu teratas adalah anggota keluarga yang paling tinggi statusnya.

Kuburan batu Lo’ko Mata, Toraja Utara
Kuburan batu Lo’ko Mata, Toraja Utara
Kuburan batu Lo’ko Mata, Toraja Utara
Sunset, Batutumonga, Toraja Utara

Keesokan hari kami berkunjung ke Museum Ne’ Gandeng yang terletak di tengah sawah di desa Palangi. Disini awalnya tempat pelaksaan prosesi pemakaman Ne’ Gandeng yang merupakan tokoh masyarakat setempat.

Museum Ne’ Gandeng, Sa’dan Balusu
Museum Ne’ Gandeng, Sa’dan Balusu
Museum Ne’ Gandeng, Sa’dan Balusu

Ke Toraja belum lengkap kalau belum mengunjungi situs megalith kalimbuangbori. Selain rumah adat Tongkonan dan kuburan batu, menhir ini juga menentukan derajat dan status sosial seseorang atau satu marga di Tana Toraja. Apabila tidak memiliki ketiganya maka seseorang atau marga tersebut masih berstatus hamba. Dalam prosesi pemakaman semakin besar biaya pengeluaran atau banyak kerbau atau “tedong” yang di sembelih maka menhir semakin besar. Dan dalam prosesi ini tidak bisa sembarang, dalam artian semakin besar pemondokan maka harus semakin banyak kerbau atau tedong yang di potong. Bahkan bambu yang digunakan serta cara pemotongannya di atur secara adat. Dalam prosesi pembuatan menhir ini bisa menghabiskan biaya miliaran rupiah.

Menhir, Kalimbuangbori, Toraja
Menhir, Kalimbuangbori, Toraja
Menhir, Kalimbuangbori, Toraja
Menhir, Kalimbuangbori, Toraja

Kemudian cemetery tour berlanjut ke Ke’te Kesu. Disini terdapat beberapa keburan bangsawan, kuburan gantung dan kuburan gua. Disini juga banyak terdapat tempat berbelanja souvenir khas Toraja, mulai dari pakaian, kain tenun, ukiran khas, kopi dan lain sebagainya.

Kuburan Bangsawan, Ke’te Kesu, Toraja
Kuburan Gantung, Ke’ Te Kesu, Toraja
Kuburan Gantung, Ke’ Te Kesu, Toraja
Kuburan Gantung, Ke’ Te Kesu, Toraja
Kuburan Gantung, Ke’ Te Kesu, Toraja
Kuburan Gantung, Ke’ Te Kesu, Toraja
Salah satu Toko Souvenir, Ke’ Te Kesu Toraja

Tujuan selanjutnya adalah “negeri di atas awan” To’ Tombi Lolai. Sebenarnya kami sudah mengunjungi tempat ini sehari sebelumnya, namun kondisi cuaca yang menyebabkan kurangnya penampakan awan atau lebih tepatnyah kabut yang menggumpal menyebabkan kami harus kembali lagi dan menginap. Pemandangan seperti ini sebenarnya sudah biasa bagi masyarakat setempat, namun bagi kami dan pengunjung lainnya merupakan satu hal yang baru dan satu moment yang wajib di tunggu. Adanya fenomena ini, membawa dampak yang cukup baik bagi masyarakat setempat. Beberapa rumah penduduk di jadikan rumah singgah bagi pengunjung yang ingin menginap dan menunggu awan. Ada juga beberapa gazebo yang baru beberapa hari di bangun untuk menampung pengunjung, biaya cukup murah, tiga ratus ribu rupiah saja untuk semalam. Namun fasilitas kamar mandi masih kurang memadai.

Sunrise negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Sunrise negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Sunrise negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Sunrise negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Sunrise, negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Offroad, Negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Ngopi, negeri di atas awan To’tombi Lolai, Toraja
Sunset, Negeri di atas awan, To’tombi Lolai, Toraja
Shooting Video Clip Nona Kandola “ATM”
Gazebo To’tombi Lolai, Toraja

Bersama adik adik penduduk To’tombi Lolai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s