Road Trip To Bulukumba, Balinya Indonesia Timur Yang Belum Tertata

Sabtu, 2 September 2017

Sekitar jam 10 pagi waktu setempat, saya bersama tiga orang sahabat berangkat dari hotel Clarion Makassar ke Bulukumba. Dengan tujuan mengunjungi beberapa tempat wisata yang sedang hits saat ini, seperti Bira, Bara dan Apparalang. Pagi yang menyenangkan, selepas sehari merayakan Idul Adha atau Idul Qurban bersama keluarga dan menikmati makanan khan lebaran Sulawesi.

FullSizeRender 4.jpg
Clarion Hotel Makassar Swimming Pool View
FullSizeRender 5.jpg
NK Body Scrub Goes to Makassar – (www.tekossi.com) Instagram: nk.secret

Belum jauh dari pusat kota Makassar kami melewati banyak persawahan tepat di pinggir jalan. Pemandangan yang menyenangkan untuk saya yang sudah sedikit jenuh dengan hingar bingar kota metropolitan. Kami menyempatkan diri untuk singgah dan berbincang bincang dengan petani yang kebetulan saat itu sedang menanam bibit jagung. Sebenarnya sawah ini di khususkan untuk menanam padi, tapi setelah panen sambil menunggu musim pembibitan maka sawahnya di tanami tumbuhan yang lain.

FullSizeRender 7.jpg
Belajar Nyangkul bersama pak Tani
FullSizeRender 6.jpg
Cerita pak Tani pada salah satu jurnalis senior Kompas, ka “Raani Ayu”

Kemudian kami melanjutkan perjalanan, tentu saja masih dengan perasaan yang cerah ceria. Tidak ada kata membosankan untuk road trip kali ini, karena di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa menarik dan tidak biasa. Sekitar satu jam dari tempat pemberhentian pertama kami melewati berkilo kilo meter hamparan tambak garam di Jeneponto. Di sinipun kami singgah, tentu saja untuk saya pribadi tidak akan melewatkan kesempatan foto dan nge’VLOG untuk kepentingan eksistensi hehe (don’t judge).

Sedikit membuka mata dan telinga untuk curhatan para petani garam, yang menghadapi masalah rendahnya harga garam perkilo gramnya dan kondisi cuaca yang mempengaruhi hasil panen. Melintas di benak saya, dengan banyaknya petani garam di Indonesia, kenapa kita masih mengimport dan mengalami kelangkaan garam belum lama ini..?!?! (sekali lagi bukan bidang saya untuk berkomentar).

IMG_3117.JPG
Memanen garam itu menyenangkan, tapi untuk saya yang belum terbiasa, ini pekerjaan yang sangat sulit, apalagi harus dikerjakan dibawah teriknya sinar matahari
IMG_3128.JPG
Jangan pernah menengeluh untuk harga garam, yang tidak seberapa dibandingkan dengan keringat lelah para petani garam
IMG_20170912_104227.JPG
Hamparan tambak garam di kota Jeneponto

Lanjuuuutt. Melewati kota Jeneponto yang terkenal dengan hidangan daging kudanya, membuat saya yang selalu tertarik dan tertantang untuk mencoba segala sesuatu yang baru, ingin ikut merasakan dan menyicipi sedikit hidangan sate kuda atau soto kuda. Sangat disayangkan warung makan tempat kami singgah sudah kehabisan hidangan itu. Beruntung juga, karena mungkin saya tidak akan sanggup memakan daging dari hewan yang saya sukai.

Perjalanan ke Bulukumba yang seharusnya bisa di tempuh lima atau enam jam saja, bagi kami harus di tempuh dengan delapan jam perjalanan, mengingat banyaknya persinggahan yang terlalu menarik untuk dilewatkan. Kami tiba di pusat kota Bulukumba tepat sebelum waktu sholat Maghrib, kemudian kami memutuskan untuk singgah ke rumah ka Raani yang kebetulan salah satu taun tanah di daerah ini. Disini kami melepas lelah sambil “ngopi” dan sholat Maghrib.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Bira dengan harapan bisa menghabiskan malam minggu di pinggir pantai. Pusat kota Bulukumba ke Bira bisa di tempuh dengan satu jam perjalanan dengan mobil. Walaupun lelah dan ingin segera istrahat di bungalow atau villa impian, kami menyempatkan keliling pusat pembuatan kapal pinisi atau phinisi. Saya terkagum kagum dengan kapal pinisi yang terpajang sepanjang jalan, bukan hanya kapal barang tapi juga kapal pesiar mewah yang harganya bisa mencapai puluhan miliar. Kapal kapal kayu ini masih di buat dengan cara manual. Disini banyak kapal pinisi yang bukan hanya di pesan oleh orang lokal atau orang Indonesia, tapi juga oleh warga negara asing.

IMG_3333.JPG
Kapal “barang” phinisi
IMG_3325.JPG
Kapal “pesiar/yacht” phinisi

Kemudian kami tiba di Bira dengan biaya masuk perkepala dikenakan lima belas ribu rupiah. Setibanya di dalam, saya mencari pantai pantai indah yang sangat terkenal itu. Dan kemudian sayapun kecewa, karena melihat referensi di biro perjalanan tentang bungalow atau villa villa yang langsung menghadap pantai, tidak dapat saya temui di sini. Kesan pertama yang saya dapatkan hanyalah pemukiman penduduk yang padat dan (maaf) terlihat kumuh, karena semrawut dan sama skali tidak tertata. Dimana beberapa villa atau boleh dikatakan penginapan saling berhadapan atau berbelakang tak tentu arah. Belum lagi bus bus perjalanan, mobil mobil pribadi dan ribuan motor yang terparkir sembarangan di pinggir jalan atau di manapun tempat yang menurut mereka bisa memarkir kendaraan. Belum lagi sampah yang bertebaran di mana mana (maafkan untuk komentar yang kurang manis kali ini). Mungkin saya datang di waktu dan tempat yang salah, di mana bertepatan dengan long weekend yang membuat suasana di tempat ini terlalu hectic. Secepat itu impian saya untuk menikmati keheningan dan ketenangan suasana pantai dan laut lepas hilang.

Tidak mau berputus asa, kami kemudian merubah tujuan ke pantai Bara, yang terkenal dengan bungalow atau villa villa yang lebih private. Tapi sesampainya kami di pantai Bara, semua villa sudah berpenghuni. Dimana menurut pengelola, sebaiknya pada saat weekend villa harus di booking jauh hari sebelumnya. Pantai yang sekiranya sepi, pada saat itupun ramai, bahkan beberapa rombongan pengunjung mendirikan tenda di pantai. Dan ada beberapa warung yang didirikan di pantai ini, yang sedikit mengganggu pemandangan karena letaknya yang tidak beraturan, menyewakan “bale bale” untuk menginap dengan biaya seratus ribu perkepala. Sangat disayangkan, potensi pariwisata yang memiliki prospek dan sudah menarik perhatian pengunjung lokal maupun mancanegara ini, tidak di kelola dengan baik.

Karena tidak bisa mendapatkan tempat menginap yang layak, kamipun memutuskan untuk kembali ke pusat kota Bulukumba untuk menghabiskan malam. Dan tentu saja tetap berusaha mendapatkan tempat menginap di pantai Bara. Thanks to traveloka kami bisa mendapatkan bungalow impian “cosmos family garden room” dengan biaya Rp.600.000++/night.

Minggu, 3 September 2017

Hari yang baru semangat yang baru. Tujuan perjalanan pertama kami adalah ke Apparalang untuk survei lokasi untuk kepentingan pemotretan yang sudah kami jadwalkan keesokan harinya. Setelah melewati pemukiman kota tua dan hutan, kami tiba di pantai dan tebing Apparalang. Lokasi yang sangat luas dan sangat strategis untuk pembangunan resort. Apa daya tempat ini belum tersedia fasilitas untuk menginap, sehingga untuk pengunjung yang ingin menikmati pemandangan atau sekedar berfoto harus rela menempuh perjalanan pulang pergi.

FullSizeRender 11.jpg
Tour da Bulukumba Sulawesi Selatan

Melihat pantai dan tebing Apparalang, saya langsung teringat “rock bar” dan “ayana resort” Bali. Pemandangan yang serupa tapi tentu saja tanpa bangunan, cafe atau bar yang bisa dijadikan tempat peristirahatan. Untuk saat ini, Apparalang memang hanya bisa menjadi tempat untuk rekreasi atau tamasya, serta lokasi pengambilan gambar, bukan untuk tujuan menginap atau melewatkan malam. Tempat ini tentu saja menjadi lokasi strategis untuk para pencinta alam untuk mendirikan tenda atau menggantung hammock untung tidur.

G2005508.JPG
Apparalang Cliff
DCIM141GOPRO
Apparalang Cliff

Tentu saja, masih dengan suasana weekend, Apparalang di penuhi banyak sekali pengunjung. Sama seperti kami yang ingin menikmati pemandangan. Bisa terlihat banyaknya pengunjung yang mengantri untuk berfoto di satu spot yang memang  menarik.

IMG_3191.JPG
With fans LOL, antrian foto

FullSizeRender 17.jpg

G2045547.JPG
Via GoPro shot PTB

 

FullSizeRender 13.jpg
Beautiful Apparalang Cliff
FullSizeRender 8.jpg
Candid shot by Paulus Tandi Bone
IMG_3175.JPG
Candid shot by PTB
FullSizeRender 12.jpg
Candid shot by PTB
FullSizeRender 9.jpg
Candid shot by PTB
IMG_3165.JPG
Namaste
FullSizeRender#1.jpg
Candid shot by PTB
FullSizeRender#3.jpg
Candid shot by PTB
IMG_0067.JPG
Belajar Foto di Tebing Apparalang, Bulukumba Sulawesi Selatan

MAKEUP_20170916122939_save.jpg20170916133020.jpg

Wisata ke pantai tentu saja kurang sempurna tanpa menikmati hidangan laut. Untuk daerah yang notabene memiliki banyak pantai dan laut, agak sulit menemukan restoran yang menghidangkan seafood. Tapi dengan sedikit usaha, kami akhirnya menemukan salah satu restoran (sorry, terlalu lapar sampe lupa nama restonya) yang menyediakan cumi, udang dan berbagai macam jenis ikan laut.

Selanjutnya kami kembali mengunjungi tempat pembuatan kapal phinisi, yang sehari sebelumnya hanya bisa kami pandangi dari luar.

BeautyPlus_20170913122832_save.jpg
Icha di Kapal Phinisi
IMG_0076.JPG
Kapal (barang) Phinisi
SAM_0036.JPG
Mereka Yang Sibuk Meliput
SAM_0015.JPG
Candid di Geladak Kapal (barang) Phinisi
SAM_0011.JPG
Pengerjaan Kapal Phinisi Dengan Cara Manual
FullSizeRender 16.jpg
Geladak Kapal (barang) Phinisi
SAM_0038.JPG
Kapal Pesiar/Yacht Phisini

Setelah puas berkeliling geladak kapal phinisi, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Cosmos Bungalow yang semalam sebelumnya sudah dibooking melalui salah satu website. Tidak memakan waktu lama kami tiba di Cosmos Bungalow yang berada tepat di bibir pantai Bara. Proses check-in sangat mudah, karna sebelumnya kami sempat berbincang bincang dengan staf pengelola. Biaya Rp. 600.000++/malam untuk 4 orang, “Cosmos Bungalow Family Garden Room” akan mengenakan biaya tambahan Rp.100.000/kepala apabila tamu konfirmasi sebelumnya atau Rp.150.000/kepala apabila tamu tidak konfirmasi pada saat check-in.

Kamar yang kami gunakan sebenarnya memiliki kapasitas 8 orang. Eksterior dan interior bungalow ini di design dengan konsep natural. Dimana bangunan yang terdiri dari dua lantai ini terbuat dari papan dan menggunakan atap “rumbia” (daun sagu), sehingga suasana terasa sejuk dan nyaman. Suguhan karya seni patung dan ragam hias berbahan dasar kayu menghiasi interior ruangan. Di salah satu pojokan kamar juga tersedia buku buku bacaan.

IMG_20170913_170716.JPG
Cosmos Bungalow Family Garden Room
IMG_20170913_170529.JPG
Teras lt.1 Family Garden Room
IMG_20170913_170626.JPG
Sea View Room
IMG_20170913_170737.JPG
Mini Resto Tampak Belakang
IMG_0066
Mini Resto di Cosmos Bungalow (www.tekossi.com) *for dress collections

Di mini resto Cosmos bungalow ini kami bisa langsung menikmati indahnya matahari terbenam. Lebih menarik lagi karna pada saat itu pantai terlihat sepi hanya ada pengunjung yang menginap di villa villa sekitar. Tentu saja saya tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto.

FullSizeRender 19.jpg
Pantai Bara, Bulukumba Sulawesi Selatan (shot by PTB)
FullSizeRender 18.jpg
Pantai Bara, Bulukumba Sulawesi Selatan (shot by PTB) – (www.tekossi.com) *for dress collections
IMG_3495.JPG
Pantai Bara shot by PTB – (www.tekossi.com) *for dress collections
IMG_3489.JPG
VLOGing – (www.tekossi.com) *for dress collections
IMG_0120.JPG
Sunset shot by PTB
IMG_3464.JPG
Pantai Bara, shot by PTB

Senin, 4 September 2017

Dari berbagai macam sarapan yang disediakan di mini resto Cosmos Bungalow saya memilih lemon sugar pancake. Lumayan untuk mengisi energi di pagi hari sebelum kami berangkat ke Apparalang untuk melakukan pemotretan.

SAM_0006#2.JPG

IMG_20170916_104213.JPG
Breakfast with the Sea View
GOPR2651.JPG
Cosmos Bungalow Mini Resto atas tebing
SAM_0005.JPG
Pantai Bara, Bukukumba Sulawesi Selatan

 

IMG_3612.JPG
Drone View – Cinderella Tanpa Alas Kaki Berlarian di Pantai Bara                                (www.tekossi.com) *for dress collectionsSAM_0040#1.JPG

Puas berkeliling pantai Bara, kamipun berangkat ke Apparalang dengan menempuh setengah jam perjalan. Walaupun masih ramai pengunjung tapi tidak sepadat weekend kemarin. Owkay, let picture says thousand words.

FullSizeRender 22.jpg
Kami yang Eksis di Apparalang ketika itu – (www.tekossi.com) *for dress collections
FullSizeRender 21.jpg
Dede Icha yang rajin videoin kegiatan trip Bulukumba – (www.tekossi.com) *for dress collections
FullSizeRender 26.jpg
Behind the Scene with dede Icha – (www.tekossi.com) *for dress collections
APPARALANG CLIFF
Butterfly Gown shot by Paulus Tandi Bone – (www.tekossi.com) *for dress collections
FullSizeRender 3.jpg
Cinderella Bersendal Jepit, shot by Paulus Tandi Bone – (www.tekossi.com) *for dress collections
IMG_20170904_130000#1.JPG
Via GoPro Raani Ayu -(www.tekossi.com) *for dress collections
YDXJ0342.jpg
http://www.tekossi.com for dress collections

SAM_0066.JPG

SAM_0071.JPG

Waktunya pulaaaang…. Diperjalanan pulang kami singgah menemani kakak kakak jurnalis yang meliput tentang rumput laut. Saya tentu saja menyempatkan diri untuk selfie.

XIAOYI
Petani Rumput Laut di Desa Baruga Kecamatan Pajjukukang, Sulawesi Selatan

Selfie di Desa Baruga Kecamatan Pajjukukang

FullSizeRender 28.jpg
Bersama Petani Rumput Laut di Desa Baruga Kecamatan Pajjukukang, Sulawesi Selatan
FullSizeRender 29.jpg
Petani Rumput Laut di Desa Baruga Kecamatan Pajjukukang, Sulawesi Selatan

All and all trip kali sangat menyenangkan. Merasakan suasana yang baru, mengunjungi tempat yang baru, dan banyak belajar hal hal yang tidak biasa. Wonderful Indonesia, mari berbangga dan bersama menjaga tanah air tercinta.

Akkhhhh INDONESIA TERLALU INDAH UNTUK DI ABAIKEN..!!!!

Sampai bertemu di trip selanjutnyaaaa….